
Salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan yaitu anak bukan tabularasa. Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan “anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar – samar. (KHD,1936, Dasar – Dasar Pendidikan). Menurutnya, setiap anak membawa watak bawaan yang diturunkan dari kedua orang tuanya, namun masih dalam keadaan samar (belum tampak / belum muncul).
Dalam proses pendidikan, tidak hanya aspek prestasi akademik saja yang harus ditekankan akan tetapi pendidikan karakter juga sangat penting untuk ditekankan dalam dunia pendidikan. KHD menambahkan bahwa dengan pendidikan yang menuntun akan memfasilitasi atau membantu anak untuk menebalkan garis samar – samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar – Dasar Pendidikan).
Memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai – nilai Pancasila diharapkan dapat diraih oleh peserta didik. Kompetensi yang diharapkan didasarkan pada nilai – nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila. Nilai – nilai luhur yang ingin diraih tersebut diantaranya yaitu beriman (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa) dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Profil Pelajar Pancasila termuat di dalam tujuan dan visi pendidikan. Selain digunakan sebagai penuntun atau penunjuk bagi pendidik serta pelajar Indonesia, Profil Pelajar Pancasila juga merupakan tujuan akhir segala pembelajaran, program, dan kegiatan di satuan pendidikan.
Penerapan Profil Pelajar Pancasila di lingkungan sekolah dapat dihidupkan dalam diri setiap peserta didik dan dapat dibangun, melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, pembelajaran kokurikuler (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, dan pembelajaran ekstrakurikuler. Dalam kegiatan di lingkungan sekolah tersebut, dengan mengintegrasikan enam nilai luhur yang dicita – citakan maka akan membentuk karakter peserta didik sesuai dengan nilai luhur yang ada dalam Pancasila.
Salah satu contoh nyata penerapan Profil Pelajar Pancasila di lingkungan sekolah yaitu dengan dilaksanakannya pembelajaran kokurikuler (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila / P5). Kegiatan tersebut dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Sabtu. Sebagai salah satu contoh dari kegiatan tersebut yaitu dilaksanakannya kegiatan berkunjung ke tempat yang kotor (Tempat Pembuangan Sampah di Piyungan) dan ke tempat yang bersih di lingkungan sekitar. Peserta didik diajak melihat dari dekat lingkungan yang bersih dan kotor serta diedukasi tentang dampak sampah bagi lingkungan untuk membangun kesadaran bagaimana mengelola sampah dengan benar. Sebelum kegiatan tersebut peserta didik telah membuat jurnal yang dibuat dengan memanfaatkan barang – barang bekas yang tidak terpakai.

Siswa mengunjungi TPA Piyungan
Setiap projek yang diimplementasikan satuan pendidikan, sudah ditentukan temanya oleh Kemendikbud. Pelajaran berbasis projek seperti ini mulai dijadikan sebagai kebiasaan di sekolah. Hal ini sangat mendukung agar dapat tercapai tujuan dan visi pendidikan. Mulai membiasakan pelajaran berbasis projek dengan diterapkannya P5 ini, maka sekolah menjadikan P5 sebagai salah satu kegiatan yang dapat menuntun dan memfasilitasi anak untuk menebalkan karakter agar memiiki kompetensi yang berdasarkan nilai – nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila.
Oleh : Sonialopita, S.Pd.
Guru Kelas
